Jumat, 09 Oktober 2015

Musibah Kabut Asap Riau dan Jambi



Musibah kabut asap yang menimpa kota Riau dan kota Jambi yang terjadi saat ini telah banyak menimbulkan kasus – kasus yang terkait dengan masalah kesehatan, polusi udara, terhambatnya transportasi udara. Musibah kabut asap yang terjadi akibat terbakarnya hutan dan lahan gambut yang disebabkan musim kekeringan dan global warming ini telah memicu bencana alam yang mngikutsertakan negara tetangga menjadi korban nya seperti Malaysia dan Singapura. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mengatakan telah memperingatkan rekan tetangganya Indonesia terkait situasi ini “dan mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan tindakan untuk mengurangi penyebaran asap yang melewati batas Negara.”
Dampak di dalam Negeri sendiri seperti telah diperkirakan banyak korban yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ,Sekretaris Dinkes Kabupaten Melawi, Oktavianu Naibaho dimana pada bulan Juli tercatat ada 1.203 kasus ISPA dari seluruh kecamatan, sedangkan pada Agustus, terjadi peningkatan sebanyak 1.652 kasus ISPA, sehingga telah terdata sebanyak 2.855 penderita, dan jumlah itu belum termasuk kasus ISPA di bulan September. Serta dampak dalam hal Transportasi, telah banyak pesawat yang menunda keberangkatannya (delay) akibat kabut asap yang menghalangi jarak pandang.[i]
Upaya pemadam api yang membakar hutan dan lahan di sejumlah tempat di Provinsi Riau terus dilakukan oleh pemerintah, salah satunya dengan melakukan hujan buatan. Sebanyak dua ton garam ditebar di langit Riau. Hingga saat ini polisi telah menetapkan sebanyak 29 tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan di Riau. Sebanyak 27 di antaranya telah ditahan. "Tersangka terbanyak di Kabupaten Bengkalis dengan delapan orang tersangka. Kemudian dua orang tersangka dari Bengkalis itu masih buron. Semua tersangka dari kalangan masyarakat," kata Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo.[ii]
Menurut pendapat saya permasalahan mengenai kabut asap ini adalah tidak hanya disebabkan oleh alam, juga di sebabkan oleh perusahaan – perusahaan yang tidak berkomunikasi lagi kepada Pemerintah dan warga sekitar mengenai dampak yang akan di timbulkan. Solusi untuk permasalahan ini menurut saya adalah, untuk perusahaan – perusahaan mulai lah untuk tidak merusak lahan dengan membakarnya, dan juga untuk perusahaan kertas dalam memilih batang hendaklah menanam yang baru untuk menggantikkan batang yang telah di tebang, sehingga hutan pun tetap subur dan tidak tandus. apabila lahan mulai tandus, itu akan memunculkan titik – titik api yang di sebabkan cuaca ekstrim akibat kemarau ini, sehingga kebakaran hutan dan musibah kabut asap pun tidak terelakkan lagi. Solusi untuk Pemerintah untuk sekarang yaitu bagaimana caranya untuk meminimalisir dampak yang akan ditimbulkan oleh kabut asap ini, seperti dalam segi ekonomi mengurangi kunjungan wisata domestik dan mengganggu susaha bisnis, sejumlah bandara di tutup, dalam segi kesehatan telah banyak yang menderita Infeksi Saluran Pernapaan Akut (ISPA), dalam segi pendidikan sekolah – sekolah banyak yang diliburkan oleh pemerintah daerah setempat, dan dalam segi lingkungan sudah jelas dampak yang di timbulkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar