Senin, 29 Februari 2016

Andre Suryatama (Teori Komunikasi1)


Teori dan Model Komunikasi



Disusun Oleh  : Andre Suryatama

NPM               : D1E015060



            Dewasa ini, sering terngiang ditelinga kita seputar Teori dan Model-model dalam Ilmu Komunikasi. Terutama dilingkungan khalayak intelektual yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi. Ada beberapa teori yang mahsyur di kalangan masyarakat pendidikan, pun model komunikasi. Namun sebelum membahas lebih jauh kita akan mengenal terlebih dahulu pengertian Teori dan Model Komunikasi.

  1. Pengertian Teori Komunikasi
    Menurut Cragan dan Shields, Teori komunikasi merupakan hubungan di antara konsep teoretikal yang membantu memberi, secara keseluruhan ataupun sebahagiannya, keterangan, penjelasan, penerangan, penilaian ataupun ramalan tindakan manusia berdasarkan komunikator (orang) berkomunikasi (bercakap, menulis, membaca, mendengar, menonton, dan sebagainya) untuk jangka masa tertentu melalui media. (CRAGAN & SHIELDS, 1998)
  2. Pengertian Model Komunikasi
    Model komunikasi merupakan alat untuk menjelaskan atau untuk mempermudah penjelasan komunikasi. Dalam pandangan Sereno dan Mortensen (dalam Mulyana. 2001:121)

Setelah mengetahui pengertian dari Teori dan Model Komunikasi, kita akan lebih mudah dalam mempelajari Teori dan Model Komunikasi itu sendiri, berikut ini adalah beberapa Teori dan Model Komunikasi yang pada umumnya sering terwujud di kehidupan sehari-hari.

Beberapa Teori Komunikasi

  1. Teori Inokulasi

Teori Inokulasi atau teori suntikan pada mulanya pertama kali ditampilkan oleh Mc Guire yang dimana ia mengambil analogi dari peristiwa medis. Teori ini dicontohkan seperti orang yang secara fisik tidak siap untuk menahan penyakit infeksi seperti cacar dan polio, memerlukan inokulasi (suntikan) vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya supaya dapat melawan penyakit tersebut. Demikian pula halnya dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal atau tidak menyadari posisi mengenai hal tersebut, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuai atau dibujuk. Oleh karena itu ia tidak siap untuk menolak argumentasi si persuader atau pembujuk. Suatu cara membuatnya agar membuatnya tidak mudah kena pengaruh adalah “menyuntiknya” dengan argumentasi balasan (counterarguments). Dengan kata lain “lebih baik mempersenjatai diri dengan argument sehingga tidak mudah terbujuk”. Menurut Mc Guire (1964) orang dapat di inokulasi untuk melawan persuasi, dan para politikus sering kali melakukanya. Mereka memperingatkan khalayaknya bahwa lawan politiknya mungkin akan mencoba mempersuasi mereka dengan beberapa pandangan. Mereka memberitahu pada khalayaknya apa yang mungkin dikatakan oleh lawanpolitiknya seraya memberikan alasan mengapa lawannya itu salah. Dengan demikian para politisi berharap dapat menyuntik para pengikutnya dengan argumentasi balasan agar kemudian dapat digunakan untuk menyangkal argumentasi lawan.



  1. Teori Uses and Gratifications
    Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Penganut teori ini meyakini bahwa individu sebagai mahluk supra-rasional dan sangat selektif. Menurut para pendirinya, Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1984), uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain. Contoh : Masyarakat memilih menonton Sinetron karena mereka butuh hiburan

  2. Teori The Spiral of Silence
    Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain masyarakat. Pada intinya adalah suara minoritas tertutupi oleh suara mayoritas, contoh : Suara orang yang setuju LGBT, tertutupi oleh banyaknya orang yang tidak setuju LGBT


  3. Standpoint Teori
    Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman individu, pengetahuan, dan perilaku komunikasi sebagian besar dibentuk oleh kelompok sosial dimana mereka aktif (Wood, J. T.,1982 dalam West, R., & Turner, L. H., 2000). Dari sinilah kita dapat menarik kerangka tentang sistematika pengaruh kekuatan pembentuk identitas. Contoh : Andi adalah anak yang nakal, karena lingkungan tempat dia tinggal adalah lingkungan kumuh yang keras.

Beberapa Model Komunikasi.

  1. Model Laswell

Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who says in which channel to whom with what effect (Siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik : Lasswell itu merupakan unsur-unsur proses komunikasi yaitu Communicator (komunikator), Message (pesan), Media (media), Receiver (komunikan/penerima), dan Effeck (efek).

  1. Model Berlo (S-M-C-R)

Rumus S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah : S singkatan dari Source yang berarti sumber atau komunikator ; M singkatan dari Message yang berarti pesan ; C singkatan dari Channel yang berarti saluran atau media, sedangkan R singkatan dari Receiver yang berarti penerima atau komunikan.
Khusus mengenai istilah Channel yang disingkat C pada rumus S-M-C-R itu yang berarti saluran atau media, komponen tersebut menurut Edward Sappir mengandung dua pengertian, yakni primer dan sekunder. Media sebagai saluran primer adalah lambang, misalnya bahasa, kial (gesture), gambar atau warna, yaitu lambang-lambang yang dieprgunakan khusus dalam komunikasi tatap muka face-to-face communication), sedangkan media sekunder adalah media yang berwujud, baik media massa, misalnya surat kabar, televisi atau radio, maupun media nir-massa, misalnya, surat, telepon atau poster. Jadi, komunikator pada komunikasi tatap muka hanya menggunakan satu media saja, misalnya bahasa, sedangkan pada komunikasi bemedia seorang komunikator, misalnya wartawan, penyiar atau reporter menggunakan dua media, yakni media primer dan media sekunder, jelasnya bahasa dan sarana yang ia operasikan.


Sumber           :

Griffin Emory A., 2003, A First Look at Communication Theory, Singapore : McGraw-Hill

Infante, Dominic A, Andrew S Rancer, Deanna F Womack, 2003, Building Communication Theory, Illinois: Waveland Press Inc.

Littlejohn, S.W. (1996). Theories of Human Communication, Fifth edition. Belmont CA: Wadsworth.

Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar