Kamis, 26 November 2015

As Long As I’m with You - Adi Idham Siregar - D1E013050

As Long As I’m with You
Adi Idham Siregar


"Rumah adalah orang yang paling kita cintai"

"Rumahmu kebakaran" pesan itu datang dari Facebook Eka.
"Rumah siapa?" tanya Valda, darahnya berdesir.
"Rumah kamu, ini pemadam kebakarannya lagi nyiramin air" pesan selanjutnya dikirim Eka. Sekarang, ditambah sebuah foto lidah-lidah api yang amat besar, pintu dan garasinya samar terlihat. Air mata Valda membasahi pipinya, air pemadam kebakaran membasahi abu rumahnya.
Valda masuk kekamarnya, ia membuka pintu jati berwarna jingga berhias ukiran batik itu, tiga hari lagi Ia akan mengikuti tes beasiswa penuh satu semester ke Thailand, tumpukan buku tergeletak rapi di atas kasurnya. Sajadah dan mukena mengintip dari sudut lemarinya.
"Ini tes terakhirku, aku harus bisa. Ayo Valda! Jangan nyerah!" Valda menyemangati dirinya sendiri. Ia membuka lembaran buku "Media and Gender" disampingnya buku "How to Speak Thai for Dummies" terbuka, halaman 89. Valda memang mengincar beasiswa ini semenjak semester satu lalu, sudah dua kali tes ini Ia cicip, sudah dua kali pula Ibunya berkata "Gak apa-apa, belum rejeki" kepadanya.
Rumah Valda yang semula berwarna putih gading sekarang berubah menjadi hitam keabu-abuan, foto yang dikirim eka memperlihatkan kamar Valda, yang sekarang lebih mirip tumpukan abu dan arang, dari sudut yang berbeda dinding dapur dan kamar mandi yang semula biru muda sekarang menjadi hitam dengan bercak biru tua, catnya terkelupas. Keramik yang semula bermotif bunga mawar berwarna merah muda dan hijau sekarang hitam tanpa motif. Eka masih terus mengirim foto, halaman rumah Valda tergenang oleh air, pita kuning dengan tulisan "Garis Polisi Dilarang Melintas" mengitari rumah Valda, diikat di pohon Mangga dan Alpukat yang dulu tumbuh subur di samping kanan rumah Valda, sekarang pohon-pohon itu kering, daunnya coklat, buahnya hitam, bara api terlihat memerah memenuhi kulit luar, kambiumnya terlihat. Valda semakin menangis air matanya hampir menyamai derasnya semburan air dari selang pemadam kebakaran.
Ibu memasak kue koja, sejenis bolu manis basah tanpa pengembang biasanya ditambah sari pandan sebagai warna dan rasa, harum dan asapnya sampai ke kamar Valda, ia berlari kebelakang.
"Ibu masak kue koja ya? Wah nanti yang agak gosong kasih Valda ya bu" kata Valda sambil meletakkan piring di samping oven kompor.
"Iyaaa.. Itu makan dulu, ada ikan pais" ibu menunjuk tudung saji kuning dengan motif bunga matahari, senada dengan keramik yang mengitari dinding dapur. Kukusan ikan berbalur parutan kelapa dan bumbu kuning lalu dibungkus daun talas itu terlihat sangat menggiurkan. Valda mengambil piring lagi. Ibu mengeluarkan kue koja dari oven kompor memotongnya lalu mengambil meletakkan kue koja berwarna lebih gelap keatas piring yang tadi disodorkan Valda.
"Ini nak.." kata Ibu meletakkan piring itu ke samping Valda yang sedang makan.
Iya Bu, makasih Bu" valda menjawab sambil sedikit melompat kesenangan.
Valda menangis melihat foto yang masih dikirim oleh Eka Pracayajati, sahabat sebelah rumahnya. Mereka sudah mulai bermain bersama semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Kita dari main kelereng, congklak, bepean, karet sampe sekarang main gadget , tab, nonton bioskop bareng terus ya" kata-kata Eka yang dulu pernah diungkapkannya muncul lagi ke permukaan otak Valda.
Eka kuliah di Institusi Seni dan Sastra Indonesia, Ia tidak tertarik dengan luar negeri.
"Bahasa Inggris susah, kalo keluar negeri, aku ngobrol pake bahasa apa? Kalo misalnya ke Thailand kayak kamu.. Haaah, bahasa Inggris aja gak tau, apalagi bahasa Thailand.. Hahahhaa" jawaban itu yang diberikan Eka saat Valda mengajaknya ikut Tes beasiswa ke Thailand.
"Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim.. Ya Allah.." Valda mengucap nama Allah terus-menerus. Ia berbalik menuju kamar mandi lalu mencuci mukanya. Air mata yang mengering di sudut mata digosok dengan jari telunjuknya.
Pot-pot di taman dan pinggir pagar rumah disiram Valda. Bunga kamboja, kembang sepatu, kenanga, dan anggrek memberi warna taman dan pagar rumah tanpa tingkat itu. Valda mengambil sendok tanah dan garpu taman lalu mengganti tanah dan pupuk pot-pot itu, disebelahnya Ibu sibuk membuangi daun-daun bunga yang layu dan memetik buah alpukat dan mangga yang kebetulan berbuah lebat.
"Waah.. Nanti ibu buatkan jus alpukat sama puding mangga ya" kata Ibu.
"Waah.. Nanti Valda bantu ya bu" kata Valda semangat, ia mempercepat gerakan tangannya. Gambaran jus dan puding segar menari diatas kepalanya.
"Ting.. Ting.." suara pemberitahuan pesan Facebook berbunyi nyaring membangunkan Valda yang sedari tadi terus-terus melamun. Eka mengirim pesan.
"Kata pak polisi, apinya muncul karena arus listrik yang gak stabil, jadi mungkin korslet gitu. Kamu kan juga lagi di Thailand, jadi gak ada yang tahu. Eh tau tau apinya udah segede ini"
Badan Valda lemas. Ia keluar dari kamar mandi menuju ruangan kamarnya. "Krieeet.." pintu itu terbuka. Seorang wanita berdiri menatap. Valda memeluknya.
"Ibu.. Rumah kita kebakaran" suara Valda bergetar.
"Iya nak.. Ibu sudah tau. Tadi Mama Eka menelpon Ibu.. Yasudah jangan menangis. Kita harus sabar. Ini ujian dari Allah, ikhlas" kata Ibu. Air mata Ibu sedikit menetes, Ibu menguatkan suaranya.
"Iya bu. Alhamdulillah kita disini, Alhamdulillah kita selamat bu" jawab Valda. Ia tidak tahu harus senang atau sedih.
"Iya nak, dimanapun itu asal sama kamu Ibu sudah merasa dirumah. Yang penting sekarang sama anak Ibu. Sudah ayo berdoa kepada Allah semoga kita diberi ketabahan, semoga Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik" Ibu tersenyum, air matanya masih sedikit menetes.
"Iya Bu, dimanapun Valda asal sama Ibu, Valda sudah merasa dirumah. Yang penting adalah Ibu. Valda ikhlas sama semua yang hilang. Alhamdulillah Valda masih bisa ketemu Ibu, memeluk Ibu"
"Ting.. Ting.." suara yang sama kembali berdenting. Valda melepaskan pelukan Ibunya, Ia membuka handphonenya.
"Val.. Apinya udah padam, mobil sama motor kamu selamat soalnya garasinya gak sampe kebakar. Syukurlah Val.. Puji Tuhan"
"Iya Ka.. Makasih ya udah ngasih tau aku. Iya Alhamdulillah. Miss you so much" Valda membalas pesan Eka.
Ibu pergi kedapur mengambil dua cangkir cha kiyao atau teh hijau Thailand. Sudah dua minggu mereka disini, awalnya Ibu tidak mau ikut. Tapi beasiswa yang didapat Valda mengharuskan ia membawa satu orang pendamping. Ayahnya seorang polisi, beliau sudah meninggal saat meleraikan perang antar dua suku. Jadi Ibulah yang harus menemani Valda. Teh itu Ibu letakkan didalam cangkir, dimasukkannya sedikit gula kedalam cangkir itu. Ibu kembali ke kamar, memberikan Valda secangkir cha kiyao hangat. Mereka berpelukan lagi lebih erat.
"Alhamdulillah ya Allah" kata Valda.












Profil Penulis

Nama                                            : Adi Idham Siregar
Tempat/tanggal lahir         : Bengkulu/24 Mei 1995
Hobi                                             : Menulis, menyanyi, travelling
Alamat                                         : Jalan Setianegara no 11, Kandang Mas, Bengkulu
Nomor Handphone          : 089649704516

E-mail                                          : adiidham@gmail.com

13 komentar: