Zabana
Adi Idham Siregar
Zabana
melihat keatas, di kirinya tumpukan batu bata yang sudah berlumut menghadang,
di kanan, pandangannya dihalangi batu koral dan pecahan semen lembab, tiga
lembar daun pakis mencuat dari selanya.
Kaki dan setengah badannya tertutup air jernih, butiran pasir melayang
disekitarnya. Air menetes, darah menetes. Za memegang batu bata dan mencoba
memanjat, telapak kakinya terlalu basah, Ia jatuh. Tangannya sekarang memegang
semen yang sudah hampir terbuyar, lingkaran diatasnya sudah semakin dekat, ia
menggenggam kumpulan pakis yang lumayan rimbun. Ia menarik badannya keatas
sekuat tenaga, tapi akar pakis tidak kuat untuk menahan beban Za, Ia jatuh,
kepalanya menghantam lumut, lumut yang menempel di batu bata. Air di sumur itu
berubah maroon. Seorang anak kecil
mengintip dari atas.
Za
terbangun, tangannya terhubung oleh selang berisi cairan bening dibawah selimut
tipis ia merasa panas air conditioner
menunjukkan angka 18 derajat celcius batang besi di sisi tempat tidurnya sudah
terasa sangat dingin, buah apel, pisang, pir, dan jeruk di dalam parsel sudah
hampir mengkerut, roti dan bekal yang dibawa sudah lumayan keras. Di kanannya
sekarang seorang wanita tersenyum, tangan wanita itu langsung menggenggam
tangan Za. Ia lalu menghapus air matanya dan mulai mengelus pipi Zabana. Za
diam, begitu pun bunga dan burung kertas di sampingnya.
"Nak.."
panggil wanita itu.Za diam, matanya bergerak menyapu wajah wanita itu, apel,
burung kertas, dan selang ditangannya.
"Nak..
Sudah enakkan?" tanya wanita itu sambil memegang perban di dahi Zabana.
"Naak..
Za.." wanita itu mulai cemas.
Za
masih diam, hanya deru air conditioner
dan gesekan tirai yang terdengar. Wanita itu menangis. Lelaki dengan tinggi
sekitar 172cm masuk keruangan itu seorang gadis membuntutinya, mereka menggunakan
setelan putih lengkap dengan stetoskop di leher. Lelaki itu memeriksa dan
menanyai berbagai macam hal kepada Za. Tak lama, Ia membawa wanita yang
menangis itu ke sudut ruangan, Ia menangis, lebih deras. Seorang anak kecil
mengintip dari bawah tempat tidur. Zabana tertidur lagi.
Zabana
masuk ke kamarnya, muka dan kertas yang digenggamnya sama-sama kusut.
"Maaf, Anda Tidak Lulus" tulisan itu berwarna biru, sedikit luntur
oleh air mata. Beasiswa ke Universitas impiannya pupus. Beasiswa ke Kanada yang
sudah ia idamkan dari SMA sampai sekarang Ia kuliah di semester 2.
"Nak..
Sudah pulang?" suara itu datang dari dapur bersama harum ikan goreng dan
tempoyak udang, udang yang dimasak bersama sambal dan fermentasi buah durian.
"Ya!"
teriak Za.
"Tolong
sapu halaman samping ya nak, Ibu masih masak" suara tadi kembali menyapa,
kali ini diiringi bunyi letupan minyak goreng.
"Alaah
Bu! Aku lagi kesal! Bisa gak sih jangan ganggu aku!" ungkap Zabana dalam
hati.
"Ya,
nanti!" teriak Za, kali ini dengan nada lebih tinggi.Kipas angin dikamar
Za menyibakkan tirai bunga rafflesia di jendela. Cahaya matahari sore masuk
menyoroti lemari disudut ruangan, seorang anak kecil duduk diatasnya. Za tidak
melihat, Za tidak bisa melihatnya.
Za
keluar dari kamar, tangannya membanting pintu. Dengan malas, ia menuju halaman.
Mulutnya komat-kamit memarahi wanita yang sekarang berada di dapur. Sapu lidi
yang sudah lumayan kusam diambilnya, didepannya tersaji dedaunan dan ranting
kering, rumput yang tinggi dan banyaknya batuan menambah kekesalannya terhadap
wanita yang dipanggilnya "Ibu" itu. Tangannya mulai menyapu
sesampahan, sumur dibelakangnya mengeluarkan suara aneh. Ia mendekat. Sumur itu
berbisik, ia mencondongkan kepalanya kedalam sumur itu. Seorang anak kecil
bersembunyi di celah semen yang hampir terbuyar mulutnya bergerak tapi yang
terdengar hanya bisikan, di sampingnya batu bata berbalut lumut menambah
kengerian sumur itu. Za semakin menunduk, tangannya licin, ia jatuh.
Zabana
terbangun, ruangannya berbeda, Ia dikamar Ibu. Ibu datang membawa nampan berisi
air hangat, makanan kesukaan Zabana, dan obat-obatan. Ibu lalu membawa album
masa kecil Za, berharap dapat membantu ingatannya kembali. Za masih diam, Ibu
masih menangis. Ibu menyuapi Za dan menggerakkan mulutnya agar makanan itu terkunyah.
Album masa lalu Za dibolak-balik dan ditontonkan ke hadapan Za. Ibu memeluk Za
sangat erat ia mencelupkan handuk kecil ke dalam air hangat dan menyapukannya
ke dahi Za, air mata Ibu ternyata lebih hangat dari air yang dipegangnya. Za
mengusap air mata Ibu. Ibu meletakkan nampan ke wastafel, ia lalu bergegas
menuju ruang ibadah dan berdoa kepada Allah, mengambil Al-Qur'an lalu
membacanya. Suara itu terdengar sampai ke telinga Za. Zabana terbangun, Ibu
kembali ke kamar dan memeluk Za. Sambil berbisik Ibu menyanyikan lagu kesukaan
Za semasa kecil.
"Kasih
Ibu, kepada beta
Tak
terhingga sepanjang masa
Hanya
memberi, tak harap kembali" air mata ibu kembali mengalir.
"Bagai
sang surya menyinari dunia" Zabana menyanyikan lirik terakhir. Seorang
anak kecil tersenyum di sebelah Za.
Profil Penulis
Nama
Lengkap : Adi Idham
Siregar
Nama
Panggilan : Adi
Pekerjaan : Mahasiswa
Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu
Tempat/Tanggal
Lahir : Bengkulu/24 Mei 1995
Alamat :
Jalan Setianegara No 14, Kandang Mas, Bengkulu
Nomor
Handphone : 089649704516
Akun
Facebook : Adi Idham
S
Hobi :
Menulis, menyanyi, dan Travelling
Cita-cita : Duta Besar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar