Kamis, 26 November 2015

Zabana - Adi Idham Siregar - D1E013050

Zabana
Adi Idham Siregar

Zabana melihat keatas, di kirinya tumpukan batu bata yang sudah berlumut menghadang, di kanan, pandangannya dihalangi batu koral dan pecahan semen lembab, tiga lembar daun pakis mencuat dari selanya.  Kaki dan setengah badannya tertutup air jernih, butiran pasir melayang disekitarnya. Air menetes, darah menetes. Za memegang batu bata dan mencoba memanjat, telapak kakinya terlalu basah, Ia jatuh. Tangannya sekarang memegang semen yang sudah hampir terbuyar, lingkaran diatasnya sudah semakin dekat, ia menggenggam kumpulan pakis yang lumayan rimbun. Ia menarik badannya keatas sekuat tenaga, tapi akar pakis tidak kuat untuk menahan beban Za, Ia jatuh, kepalanya menghantam lumut, lumut yang menempel di batu bata. Air di sumur itu berubah maroon. Seorang anak kecil mengintip dari atas.
Za terbangun, tangannya terhubung oleh selang berisi cairan bening dibawah selimut tipis ia merasa panas air conditioner menunjukkan angka 18 derajat celcius batang besi di sisi tempat tidurnya sudah terasa sangat dingin, buah apel, pisang, pir, dan jeruk di dalam parsel sudah hampir mengkerut, roti dan bekal yang dibawa sudah lumayan keras. Di kanannya sekarang seorang wanita tersenyum, tangan wanita itu langsung menggenggam tangan Za. Ia lalu menghapus air matanya dan mulai mengelus pipi Zabana. Za diam, begitu pun bunga dan burung kertas di sampingnya.
"Nak.." panggil wanita itu.Za diam, matanya bergerak menyapu wajah wanita itu, apel, burung kertas, dan selang ditangannya.
"Nak.. Sudah enakkan?" tanya wanita itu sambil memegang perban di dahi Zabana.
"Naak.. Za.." wanita itu mulai cemas.
Za masih diam, hanya deru air conditioner dan gesekan tirai yang terdengar. Wanita itu menangis. Lelaki dengan tinggi sekitar 172cm masuk keruangan itu seorang gadis membuntutinya, mereka menggunakan setelan putih lengkap dengan stetoskop di leher. Lelaki itu memeriksa dan menanyai berbagai macam hal kepada Za. Tak lama, Ia membawa wanita yang menangis itu ke sudut ruangan, Ia menangis, lebih deras. Seorang anak kecil mengintip dari bawah tempat tidur. Zabana tertidur lagi.
Zabana masuk ke kamarnya, muka dan kertas yang digenggamnya sama-sama kusut. "Maaf, Anda Tidak Lulus" tulisan itu berwarna biru, sedikit luntur oleh air mata. Beasiswa ke Universitas impiannya pupus. Beasiswa ke Kanada yang sudah ia idamkan dari SMA sampai sekarang Ia kuliah di semester 2.
"Nak.. Sudah pulang?" suara itu datang dari dapur bersama harum ikan goreng dan tempoyak udang, udang yang dimasak bersama sambal dan fermentasi buah durian.
"Ya!" teriak Za.
"Tolong sapu halaman samping ya nak, Ibu masih masak" suara tadi kembali menyapa, kali ini diiringi bunyi letupan minyak goreng.
"Alaah Bu! Aku lagi kesal! Bisa gak sih jangan ganggu aku!" ungkap Zabana dalam hati.
"Ya, nanti!" teriak Za, kali ini dengan nada lebih tinggi.Kipas angin dikamar Za menyibakkan tirai bunga rafflesia di jendela. Cahaya matahari sore masuk menyoroti lemari disudut ruangan, seorang anak kecil duduk diatasnya. Za tidak melihat, Za tidak bisa melihatnya.
Za keluar dari kamar, tangannya membanting pintu. Dengan malas, ia menuju halaman. Mulutnya komat-kamit memarahi wanita yang sekarang berada di dapur. Sapu lidi yang sudah lumayan kusam diambilnya, didepannya tersaji dedaunan dan ranting kering, rumput yang tinggi dan banyaknya batuan menambah kekesalannya terhadap wanita yang dipanggilnya "Ibu" itu. Tangannya mulai menyapu sesampahan, sumur dibelakangnya mengeluarkan suara aneh. Ia mendekat. Sumur itu berbisik, ia mencondongkan kepalanya kedalam sumur itu. Seorang anak kecil bersembunyi di celah semen yang hampir terbuyar mulutnya bergerak tapi yang terdengar hanya bisikan, di sampingnya batu bata berbalut lumut menambah kengerian sumur itu. Za semakin menunduk, tangannya licin, ia jatuh.
Zabana terbangun, ruangannya berbeda, Ia dikamar Ibu. Ibu datang membawa nampan berisi air hangat, makanan kesukaan Zabana, dan obat-obatan. Ibu lalu membawa album masa kecil Za, berharap dapat membantu ingatannya kembali. Za masih diam, Ibu masih menangis. Ibu menyuapi Za dan menggerakkan mulutnya agar makanan itu terkunyah. Album masa lalu Za dibolak-balik dan ditontonkan ke hadapan Za. Ibu memeluk Za sangat erat ia mencelupkan handuk kecil ke dalam air hangat dan menyapukannya ke dahi Za, air mata Ibu ternyata lebih hangat dari air yang dipegangnya. Za mengusap air mata Ibu. Ibu meletakkan nampan ke wastafel, ia lalu bergegas menuju ruang ibadah dan berdoa kepada Allah, mengambil Al-Qur'an lalu membacanya. Suara itu terdengar sampai ke telinga Za. Zabana terbangun, Ibu kembali ke kamar dan memeluk Za. Sambil berbisik Ibu menyanyikan lagu kesukaan Za semasa kecil.
"Kasih Ibu, kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali" air mata ibu kembali mengalir.
"Bagai sang surya menyinari dunia" Zabana menyanyikan lirik terakhir. Seorang anak kecil tersenyum di sebelah Za.














Profil Penulis

Nama Lengkap                        : Adi Idham Siregar
Nama Panggilan                      : Adi
Pekerjaan                                 : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu
Tempat/Tanggal Lahir : Bengkulu/24 Mei 1995
Alamat                                                : Jalan Setianegara No 14, Kandang Mas, Bengkulu
Nomor Handphone                 : 089649704516
Akun Facebook                       : Adi Idham S
Hobi                                        : Menulis, menyanyi, dan Travelling
E-mail                                     : adiidhams@gmail.com

Cita-cita                                  : Duta Besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar