Kamis, 26 November 2015

Kau Sayap Kananku - Rahmawati - D1E013029

Kau Sayap Kananku

Setiap orang memiliki kisah dan cintanya masing-masing, begitupun Aku dengan kisah cintaku sendiri. Sosok laki-laki bernama Angga yang kukenal beberapa bulan lalu telah mencuri hatiku, alhasil dalam jangka waktu yang singkat, kamipun berkomitmen untuk menjadi sepasang kekasih. Angga laki-laki yang baik dan membuat ku nyaman selama berada di sisinya. Namun, kisah cinta ini tidak seindah yang kami bayangkan. Ada perbedaan yang menjadi benteng diantara kami, ia yang tidak berpendidikan tinggi serta berasal dari keluarga sederhana, menjadi alasan permasalahan tumbuh dalam hubungan kami. Keluarga ku sangat tidak menyetujui hubungan kami, mereka dengan segala caranya mendesakku agar meninggalkan laki-laki yang amat ku cintai ini. Namun, tidak semudah itu, apapun yang terjadi Aku dan Angga telah berjanji untuk terus bertahan dan memperjuangkan cinta kami.
Hari ini Aku meminta Angga untuk menemaniku membeli buku di Gramedia, selama perjalanan, hati ini begitu resah dan gelisah, entah apa yang akan terjadi hingga Aku mengingatkan Angga untuk lebih berhati-hati memacu roda duanya. Selang 15 menit dari perbincangan kami, tiba-tiba dari belakang ada suara gemuruh yang besar sekali hingga Angga dengan cepat membanting stirnya ke kanan, ternyata suara itu berasal dari mobil truk yang kehilangan kendali hingga menabrak mobil di depan kami tadi, tapi dengan kami membawa mobil ke kanan tidak membawa kami pada titik aman, ternyata dari depan muncul mobil Jazz yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga kami tidak dapat mengelak lagi, entah apa yang terjadi setelah itu. Yang ku ingat hanyalah suara tabrakan yang besar sekali dan ku lihat Angga telah berlumuran darah memelukku untuk melindungiku hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dalam dekapanku, setelah itu Aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Saat ku buka mataku, Aku melihat ibu dan ayah ku tengah berdiri di samping ranjang rumah sakit dan Aku berbaring di atasnya. Aku bingung dengan keadaan ini,
“Nak syukurlah kamu sudah sadar, Ibu sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja sayang?” tanya ibu ku sambil menangis.
“Iya Bu, Aku baik-baik saja. Bu, Angga dimana Bu? Apa dia baik-baik saja?”. Seketika ku mengingat Angga.
Angga.... (dengan gugup), Angga baik-baik saja Nak, ia juga dirawat persis di ruang sebelah”.
“Aku ingin melihatnya Bu, Aku mohon bawalah Aku ke Angga Bu, Aku mohon”. Mohonku sambil menangis.
Ibu pun mengabulkan pemintaan ku dan membawaku ke ruangan dimana Angga dirawat. Saat ku memasuki ruangan itu, ku lihat Angga sedang melihat sekelilingnya dengan ekspresi wajah yang sangat datar, orang-orang disampingnya menangis dan berbicara mencoba untuk meyakinkan Angga bahwa mereka adalah keluarganya sendiri. Aku pun mendekati mereka dengan kebingungan yang lebih lagi dari sebelumnya.
“Angga, syukurlah kamu sudah sadar. Aku bersyukur sekali, apa sekarang kamu baik-baik saja?”
“maaf kamu siapa ya?” Ujar Angga dengan wajah bingung.
Sesaat suasana menjadi hening, Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Angga, sungguh bagaimana mungkin dia bertanya siapa Aku, yang jelas-jelas adalah kekasihnya.
“Angga, ini Aku Rahma pacar Kamu, Kamu gak mungkin lupa sama Aku, bagaimana bisa sayang?” Aku menangis dan tak percaya dengan keadaan ini.
“Angga mengalami amnesia karena kecelakaan itu, dan kamu tahu, bahwa Kamu adalah penyebab dari semua musibah ini. Kalau saja Kamu tidak mengajak Angga untuk pergi waktu itu, Angga sekarang pasti akan tetap baik-baik saja, dia tidak akan melupakan Aku, Ayahnya dan saudara-saudaranya yang lain. Apa belum puas Kamu menyiksa Angga dengan perlakuan keluargamu terhadap nya? Belum puas? Sekarang ia kehilangan ingatannya karena Kamu. Aku minta Kamu jauhi Angga sekarang juga, dan jangan pernah Kamu menemuinya lagi.” Bentak Ibu Angga dengan kemarahan yang membludak kepadaku.
Sungguh langit terasa runtuh, Aku hancur, hingga kini Aku menyalahkan diriku sendiri atas semua musibah ini. Tapi Aku tidak boleh membiarkan kehancuran ini membunuhku, Aku harus bisa memperbaiki semuanya.
Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, Aku dan Angga pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah walaupun begitu sulit untuk Aku menemuinya karena terhalang oleh keluarga Angga yang kini juga menentang hubungan kami, terlebih Angga yang amnesia benar-benar membuat Aku sendiri memperjuangkan cinta.
Kulakukan segalanya agar Angga bisa kembali mengingatku, setiap hari Aku mendatanginya namun selalu gagal karena tidak diizinkan oleh keluarganya, namun Aku tidak pernah menyerah, selama sebulan Aku terus datang tanpa rasa menyerah, Aku berusaha membuat keluarganya luluh setelah itu baru Aku bisa menemui Angga. Carakupun berhasil, karena kegigihan dan ketulusanku, keluarganya dapat kembali menerimaku. Kini saatnya untuk Aku berjuang membuat ingatan Angga pulih, dari foto-foto kami, mengajak ia ke tempat kenangan kami, dan setiap hari Aku berada di sisinya.
Selama satu tahun hal itu terus Aku lakukan, hingga tangan Tuhan turun memberikan keajaibannya, ingatan Angga pulih, ia bisa mengingat semuanya, dan kisah cinta kami. Angga ku kini telah kembali bersamaku. Kini kami bertekad untuk sukses bersama, kami merintis usaha bersama dari nol, segala kesulitan kami temui. Butuh waktu 2 tahun untuk kami meraih kesuksesan kami. Sungguh ini bukan perjuangan yang mudah bagi kami. Dari hasil ini Angga bisa membangun rumah dan membeli mobil untuk kami setelah menikah nanti. Dan hal yang tak bisa kugambarkan sebesar apa kebahagiaan ini, keluarga ku menyetujui hubungan kami. Karena mereka tidak bisa memungkiri bahwa mereka sendiri menjadi saksi dari perjuangan kami berdua, mereka melihat sosok Angga adalah laki-laki pekerja keras, dewasa dan bertanggungjawab, terlebih lagi kini Angga telah dapat membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang pantas bagiku.
Terbukti sudah, perjuangan yang tanpa putus, cinta yang penuh dengan ketulusan, tengan yang selalu merangkul satu sama lain, akan membawa cinta yang terpuruh sekalipun meraih mahkota kebesarannya. Karena dari dulu kupercayai bahwa, perjuangan dan do’a terus menerus akan membuat kesuksesan dan kebahagiaan menunggu kita di depan, Tuhan tidak pernah tidur, ia melihat hamba-hambanya yang berusaha.
Kini kamu bersatu dan membangun keluarga kecil kami, sungguh dialah laki-laki yang sangat kucintai, dialah sayap kanan ku, tanpanya Aku tak akan bisa terbang kemanapun yang Aku mau, dan dengannya kini aku akan mengarungi kebahagiaan dunia bersamanya tanpa ada yang memisahkan kamu selain takdir Tuhan.





PROFIL






Rahmawati, gadis kelahiran 29 April 1995 beberapa tahun yang silam. Gadis yang sangat menyukai ketenangan laut pantai, membaca novel dan sangat menyukai anak-anak kecil. Cerpen Kau Sayap Kananku ini adalah cerpen karya pertama yang Saya buat. Dengan harapan tinggi dapat menghasilkan karya-karyayang jauh lebih baik lagi dan bermanfaat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar