Kau Sayap Kananku
Setiap
orang memiliki kisah dan cintanya masing-masing, begitupun Aku dengan kisah
cintaku sendiri. Sosok laki-laki bernama Angga yang kukenal beberapa bulan lalu
telah mencuri hatiku, alhasil dalam jangka waktu yang singkat, kamipun berkomitmen
untuk menjadi sepasang kekasih. Angga laki-laki yang baik dan membuat ku nyaman
selama berada di sisinya. Namun, kisah cinta ini tidak seindah yang kami
bayangkan. Ada perbedaan yang menjadi benteng diantara kami, ia yang tidak
berpendidikan tinggi serta berasal dari keluarga sederhana, menjadi alasan
permasalahan tumbuh dalam hubungan kami. Keluarga ku sangat tidak menyetujui
hubungan kami, mereka dengan segala caranya mendesakku agar meninggalkan
laki-laki yang amat ku cintai ini. Namun, tidak semudah itu, apapun yang
terjadi Aku dan Angga telah berjanji untuk terus bertahan dan memperjuangkan
cinta kami.
Hari
ini Aku meminta Angga untuk menemaniku membeli buku di Gramedia, selama
perjalanan, hati ini begitu resah dan gelisah, entah apa yang akan terjadi
hingga Aku mengingatkan Angga untuk lebih berhati-hati memacu roda duanya.
Selang 15 menit dari perbincangan kami, tiba-tiba dari belakang ada suara
gemuruh yang besar sekali hingga Angga dengan cepat membanting stirnya ke
kanan, ternyata suara itu berasal dari mobil truk yang kehilangan kendali
hingga menabrak mobil di depan kami tadi, tapi dengan kami membawa mobil ke
kanan tidak membawa kami pada titik aman, ternyata dari depan muncul mobil Jazz
yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga kami tidak dapat mengelak
lagi, entah apa yang terjadi setelah itu. Yang ku ingat hanyalah suara tabrakan
yang besar sekali dan ku lihat Angga telah berlumuran darah memelukku untuk
melindungiku hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dalam dekapanku, setelah itu
Aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Saat
ku buka mataku, Aku melihat ibu dan ayah ku tengah berdiri di samping ranjang
rumah sakit dan Aku berbaring di atasnya. Aku bingung dengan keadaan ini,
“Nak
syukurlah kamu sudah sadar, Ibu sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Apa kamu
baik-baik saja sayang?” tanya ibu ku sambil menangis.
“Iya
Bu, Aku baik-baik saja. Bu, Angga dimana Bu? Apa dia baik-baik saja?”. Seketika
ku mengingat Angga.
Angga....
(dengan gugup), Angga baik-baik saja Nak, ia juga dirawat persis di ruang
sebelah”.
“Aku
ingin melihatnya Bu, Aku mohon bawalah Aku ke Angga Bu, Aku mohon”. Mohonku
sambil menangis.
Ibu
pun mengabulkan pemintaan ku dan membawaku ke ruangan dimana Angga dirawat.
Saat ku memasuki ruangan itu, ku lihat Angga sedang melihat sekelilingnya
dengan ekspresi wajah yang sangat datar, orang-orang disampingnya menangis dan
berbicara mencoba untuk meyakinkan Angga bahwa mereka adalah keluarganya
sendiri. Aku pun mendekati mereka dengan kebingungan yang lebih lagi dari
sebelumnya.
“Angga,
syukurlah kamu sudah sadar. Aku bersyukur sekali, apa sekarang kamu baik-baik
saja?”
“maaf
kamu siapa ya?” Ujar Angga dengan wajah bingung.
Sesaat
suasana menjadi hening, Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Angga, sungguh
bagaimana mungkin dia bertanya siapa Aku, yang jelas-jelas adalah kekasihnya.
“Angga,
ini Aku Rahma pacar Kamu, Kamu gak mungkin lupa sama Aku, bagaimana bisa
sayang?” Aku menangis dan tak percaya dengan keadaan ini.
“Angga
mengalami amnesia karena kecelakaan itu, dan kamu tahu, bahwa Kamu adalah
penyebab dari semua musibah ini. Kalau saja Kamu tidak mengajak Angga untuk
pergi waktu itu, Angga sekarang pasti akan tetap baik-baik saja, dia tidak akan
melupakan Aku, Ayahnya dan saudara-saudaranya yang lain. Apa belum puas Kamu
menyiksa Angga dengan perlakuan keluargamu terhadap nya? Belum puas? Sekarang
ia kehilangan ingatannya karena Kamu. Aku minta Kamu jauhi Angga sekarang juga,
dan jangan pernah Kamu menemuinya lagi.” Bentak Ibu Angga dengan kemarahan yang
membludak kepadaku.
Sungguh
langit terasa runtuh, Aku hancur, hingga kini Aku menyalahkan diriku sendiri
atas semua musibah ini. Tapi Aku tidak boleh membiarkan kehancuran ini
membunuhku, Aku harus bisa memperbaiki semuanya.
Seminggu
setelah dirawat di rumah sakit, Aku dan Angga pun diperbolehkan untuk pulang ke
rumah walaupun begitu sulit untuk Aku menemuinya karena terhalang oleh keluarga
Angga yang kini juga menentang hubungan kami, terlebih Angga yang amnesia
benar-benar membuat Aku sendiri memperjuangkan cinta.
Kulakukan
segalanya agar Angga bisa kembali mengingatku, setiap hari Aku mendatanginya
namun selalu gagal karena tidak diizinkan oleh keluarganya, namun Aku tidak
pernah menyerah, selama sebulan Aku terus datang tanpa rasa menyerah, Aku
berusaha membuat keluarganya luluh setelah itu baru Aku bisa menemui Angga.
Carakupun berhasil, karena kegigihan dan ketulusanku, keluarganya dapat kembali
menerimaku. Kini saatnya untuk Aku berjuang membuat ingatan Angga pulih, dari
foto-foto kami, mengajak ia ke tempat kenangan kami, dan setiap hari Aku berada
di sisinya.
Selama
satu tahun hal itu terus Aku lakukan, hingga tangan Tuhan turun memberikan
keajaibannya, ingatan Angga pulih, ia bisa mengingat semuanya, dan kisah cinta
kami. Angga ku kini telah kembali bersamaku. Kini kami bertekad untuk sukses
bersama, kami merintis usaha bersama dari nol, segala kesulitan kami temui.
Butuh waktu 2 tahun untuk kami meraih kesuksesan kami. Sungguh ini bukan
perjuangan yang mudah bagi kami. Dari hasil ini Angga bisa membangun rumah dan
membeli mobil untuk kami setelah menikah nanti. Dan hal yang tak bisa
kugambarkan sebesar apa kebahagiaan ini, keluarga ku menyetujui hubungan kami.
Karena mereka tidak bisa memungkiri bahwa mereka sendiri menjadi saksi dari
perjuangan kami berdua, mereka melihat sosok Angga adalah laki-laki pekerja
keras, dewasa dan bertanggungjawab, terlebih lagi kini Angga telah dapat
membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang pantas bagiku.
Terbukti
sudah, perjuangan yang tanpa putus, cinta yang penuh dengan ketulusan, tengan
yang selalu merangkul satu sama lain, akan membawa cinta yang terpuruh
sekalipun meraih mahkota kebesarannya. Karena dari dulu kupercayai bahwa,
perjuangan dan do’a terus menerus akan membuat kesuksesan dan kebahagiaan
menunggu kita di depan, Tuhan tidak pernah tidur, ia melihat hamba-hambanya
yang berusaha.
Kini
kamu bersatu dan membangun keluarga kecil kami, sungguh dialah laki-laki yang
sangat kucintai, dialah sayap kanan ku, tanpanya Aku tak akan bisa terbang
kemanapun yang Aku mau, dan dengannya kini aku akan mengarungi kebahagiaan
dunia bersamanya tanpa ada yang memisahkan kamu selain takdir Tuhan.
PROFIL

Rahmawati,
gadis kelahiran 29 April 1995 beberapa tahun yang silam. Gadis yang sangat
menyukai ketenangan laut pantai, membaca novel dan sangat menyukai anak-anak
kecil. Cerpen Kau Sayap Kananku ini adalah cerpen karya pertama yang Saya buat.
Dengan harapan tinggi dapat menghasilkan karya-karyayang jauh lebih baik lagi
dan bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar