Perjalanan Waktu
Adi Idham Siregar
"Tek.. Tek..
Tek.." jendela kayu terantuk ke dinding. Angin bertiup kencang semenjak
lima belas menit lalu. Bunga matahari dan aster dibawah jendela itu bergoyang
seperti akan lepas dari akarnya.
"Aduuh..
Lamaa.." Soufia mengernyitkan dahi. Pesan dan obrolan di media sosialnya
tidak menemui balasan. Sepuluh menit kemudian motor matic
berwarna putih datang, seorang lelaki turun.
"Ayo langsung pergi,
kamu lama sih kasian ntar dianya nungguin" Soufia berkata terburu-buru, ia
langsung melompat keatas motor itu diikuti lelaki yang baru satu seperempat
menit menginjakkan kakinya di rumah itu.
Soufia biasanya tidak
menerima pasien hari ini, tapi karena pasien satu ini sahabatnya sewaktu
Sekolah Menengah Pertama, ia tak tega untuk menolaknya. Lelaki itu masih
menggunakan kemeja merah dan celana polos coklat, di sepatunya, bercak-bercak
lumpur terlihat samar menutupi warna hitam mengkilap itu.
"Aku baru pulang,
tadi bantu Ibu Widya ngurus nilai dulu, aku kan masih baru jadi gak mungkin aku
nolak bantuin" kata lelaki yang sering dipanggil Deka oleh teman-temannya
dan dipanggil "Sayang" oleh Soufia.
"Iya.. Gak apa-apa
kok, aku cuma cemas aja ntar si Dianiek kelamaan nunggu" jawab Soufia.
Deka mengangguk.
Bulir gerimis perlahan
bertransformasi menjadi lebih besar, Deka menutup kaca helm dan mengancingkan
jaketnya.
"Kamu mau beli makan
dulu gak?" tanya Deka.
"Gak deh, ntar aja.
Aku masih kepikiran sama Dianiek" jawab Soufia cepat.
"Oo yaudah ntar kita
makan di..."
"Dhuaaaakk"
bunyi tabrakan terdengar jelas. Mobil dan motor terpecah menjadi beberapa
bagian. Deka dan Soufia cemas. Deka berhenti dan mencondongkan kepalanya ke
arah kiri. Bulu kuduknya merinding, helm yang dikenakan orang itu pecah, stang
kemudinya patah, spionnya patah, tangannya patah.
"Dhuaaak" bunyi
tabrakan kedua kembali terdengar, kali ini lebih jelas. Motor putih itu
bercampur tetesan air hujan, tanah, dan darah. Sepatu Deka yang semula hanya
tertutupi bercak lumpur sekarang tertutupi juga oleh darah, darah Soufia. Mereka
terbaring dijalan. Darah mengalir dari dahi dan ubun-ubun Soufia. Deka pingsan.
Air hujan membasahi mereka,
pohon, jalan, tanah, darah, dan orang-orang yang mengitari mereka.
Soufia bangun, tubuhnya
berada diatas kasur putih, Deka datang membawa bunga aster dan matahari dibalut
dengan kertas kacang dan diikat dengan pita merah muda.
"Yang, lukanya masih
sakit?" tanya Deka
"Hmm?" jawab
Soufia lalu membuang muka ke sudut kamarnya.
"Ini, masih
sakit?" tanya Deka sambil memegang ubun-ubun Soufia.
"Essss... Hmmm!"
kata Soufia meringis.
Deka mengambil air di
dapur, Soufia hanya diam menatap sudut kamarnya lalu duduk di sisi tempat
tidurnya. Ia tidak berfikir apa-apa, Ia tidak melakukan apa-apa, Ia lupa. Deka
datang membawa nampan berisi segelas air, obat merah, perban, dan beberapa pil
dan kapsul. Deka membuka perban Soufia, Ia kembali meringis. Obat merah
dioleskan diatas kapas lalu diperbankan di dahi dan ubun-ubun Soufia. Soufia berdiri lalu
dipapah menuju ruangan kecil disebelah dapur, pintunya berwarna tosca dengan
lukisan bunga matahari dan beberapa ornamen batik. Pintu itu terbuka mulus
tanpa ada suara, tanda kalau pintu itu terlalu sering dirawat dan dibuka.
Didalamnya terpajang foto-foto PDKT
sampai ulang tahun pernikahan mereka yang kedua seminggu lalu. Soufia hanya
menatap deretan foto berbingkai itu dengan pandangan kosong, Ia tidak tahu
kapan itu terjadi, siapa saja orang-orang didalam foto itu, bahkan Ia tidak
tahu apa yang sedang dilihatnya sekarang. Deka berulang kali menjelaskan
foto-foto itu tapi Soufia tetap tak bersuara. Soufia diantar ke lemari kaca,
Deka mengoceh tentang album Anggun, Beyoncè, Rihanna, dan beberapa album lagu daerah. Soufia tidak
mengerti apa yang dikatakan suaminya itu. Dia hanya melihat dan memutar-mutar
matanya keseluruh ruangan berwarna kuning kepodang itu. Soufia
diantar ke kamar, Deka menyuguhkan pil dan kapsul ke mulut Soufia. Tak lama
Soufia tertidur. Deka menyelimutinya dengan selimut putih bermotif bunga
matahari disepanjang sisi kanannya. Bunga di selimutnya terbang memenuhi ruangan
dan angan-angannya.
Soufia bangun, bunga diruangan
itu hilang, warna kuning dari lampu sorot menyakiti matanya, suster dan dokter
diruangan itu mengambil tabung oksigen dan segelas penuh air. Soufia menghirup
oksigen lalu menenggak air yang dipegang oleh suster itu.
"Dimana suami saya,
Dok?" tanya Soufia lancar.
"Dokter mengantar
Soufia ke ruangan Instalasi Gawat Darurat. Deka terbaring diatas kasur putih
lengkap dengan selimut dengan warna senada, tanpa bunga matahari. Soufia duduk
disebelahnya. Deka sedikit menggerakkan jarinya. Sambil memegang perban di
dahinya, Soufia menggenggam tangan Deka. Deka bangun, ia melihat muka Soufia.
Soufia tersenyum, tapi Deka tidak. Soufia mencium kening Deka.
" Yaaaang...
Alhamdulillah sudah bangun, gimana?" tanya Soufia cemas.
Deka diam, dia tidak mengerti apa yang dikatakan
Soufia. Ia lupa.
Profil Penulis
Nama Lengkap : Adi Idham Siregar
Nama Panggilan : Adi
Pekerjaan : Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Bengkulu
Tempat/Tanggal Lahir : Bengkulu/24 Mei 1995
Alamat :
Jalan Setianegara No 14, Kandang Mas, Bengkulu
Nomor Handphone : 089649704516
Akun Facebook : Adi Idham S
Hobi :
Menulis, menyanyi, dan Travelling
E-mail : adiidhams@gmail.com
Cita-cita :
Duta Besar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar