Kamis, 26 November 2015

PERJALANAN WAKTU - Adi Idham Siregar - D1E013050

Perjalanan Waktu
Adi Idham Siregar

"Tek.. Tek.. Tek.." jendela kayu terantuk ke dinding. Angin bertiup kencang semenjak lima belas menit lalu. Bunga matahari dan aster dibawah jendela itu bergoyang seperti akan lepas dari akarnya.
"Aduuh.. Lamaa.." Soufia mengernyitkan dahi. Pesan dan obrolan di media sosialnya tidak menemui balasan. Sepuluh menit kemudian motor matic berwarna putih datang, seorang lelaki turun.
"Ayo langsung pergi, kamu lama sih kasian ntar dianya nungguin" Soufia berkata terburu-buru, ia langsung melompat keatas motor itu diikuti lelaki yang baru satu seperempat menit menginjakkan kakinya di rumah itu.
Soufia biasanya tidak menerima pasien hari ini, tapi karena pasien satu ini sahabatnya sewaktu Sekolah Menengah Pertama, ia tak tega untuk menolaknya. Lelaki itu masih menggunakan kemeja merah dan celana polos coklat, di sepatunya, bercak-bercak lumpur terlihat samar menutupi warna hitam mengkilap itu.
"Aku baru pulang, tadi bantu Ibu Widya ngurus nilai dulu, aku kan masih baru jadi gak mungkin aku nolak bantuin" kata lelaki yang sering dipanggil Deka oleh teman-temannya dan dipanggil "Sayang" oleh Soufia.
"Iya.. Gak apa-apa kok, aku cuma cemas aja ntar si Dianiek kelamaan nunggu" jawab Soufia. Deka mengangguk.
Bulir gerimis perlahan bertransformasi menjadi lebih besar, Deka menutup kaca helm dan mengancingkan jaketnya.
"Kamu mau beli makan dulu gak?" tanya Deka.
"Gak deh, ntar aja. Aku masih kepikiran sama Dianiek" jawab Soufia cepat.
"Oo yaudah ntar kita makan di..."
"Dhuaaaakk" bunyi tabrakan terdengar jelas. Mobil dan motor terpecah menjadi beberapa bagian. Deka dan Soufia cemas. Deka berhenti dan mencondongkan kepalanya ke arah kiri. Bulu kuduknya merinding, helm yang dikenakan orang itu pecah, stang kemudinya patah, spionnya patah, tangannya patah.
"Dhuaaak" bunyi tabrakan kedua kembali terdengar, kali ini lebih jelas. Motor putih itu bercampur tetesan air hujan, tanah, dan darah. Sepatu Deka yang semula hanya tertutupi bercak lumpur sekarang tertutupi juga oleh darah, darah Soufia. Mereka terbaring dijalan. Darah mengalir dari dahi dan ubun-ubun Soufia. Deka pingsan. Air hujan membasahi mereka, pohon, jalan, tanah, darah, dan orang-orang yang mengitari mereka.
Soufia bangun, tubuhnya berada diatas kasur putih, Deka datang membawa bunga aster dan matahari dibalut dengan kertas kacang dan diikat dengan pita merah muda.
"Yang, lukanya masih sakit?" tanya Deka
"Hmm?" jawab Soufia lalu membuang muka ke sudut kamarnya.
"Ini, masih sakit?" tanya Deka sambil memegang ubun-ubun Soufia.
"Essss... Hmmm!" kata Soufia meringis.
Deka mengambil air di dapur, Soufia hanya diam menatap sudut kamarnya lalu duduk di sisi tempat tidurnya. Ia tidak berfikir apa-apa, Ia tidak melakukan apa-apa, Ia lupa. Deka datang membawa nampan berisi segelas air, obat merah, perban, dan beberapa pil dan kapsul. Deka membuka perban Soufia, Ia kembali meringis. Obat merah dioleskan diatas kapas lalu diperbankan di dahi dan ubun-ubun Soufia. Soufia berdiri lalu dipapah menuju ruangan kecil disebelah dapur, pintunya berwarna tosca dengan lukisan bunga matahari dan beberapa ornamen batik. Pintu itu terbuka mulus tanpa ada suara, tanda kalau pintu itu terlalu sering dirawat dan dibuka. Didalamnya terpajang foto-foto PDKT sampai ulang tahun pernikahan mereka yang kedua seminggu lalu. Soufia hanya menatap deretan foto berbingkai itu dengan pandangan kosong, Ia tidak tahu kapan itu terjadi, siapa saja orang-orang didalam foto itu, bahkan Ia tidak tahu apa yang sedang dilihatnya sekarang. Deka berulang kali menjelaskan foto-foto itu tapi Soufia tetap tak bersuara. Soufia diantar ke lemari kaca, Deka mengoceh tentang album Anggun, Beyoncè, Rihanna, dan beberapa album lagu daerah. Soufia tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya itu. Dia hanya melihat dan memutar-mutar matanya keseluruh ruangan berwarna kuning kepodang itu. Soufia diantar ke kamar, Deka menyuguhkan pil dan kapsul ke mulut Soufia. Tak lama Soufia tertidur. Deka menyelimutinya dengan selimut putih bermotif bunga matahari disepanjang sisi kanannya. Bunga di selimutnya terbang memenuhi ruangan dan angan-angannya.
Soufia bangun, bunga diruangan itu hilang, warna kuning dari lampu sorot menyakiti matanya, suster dan dokter diruangan itu mengambil tabung oksigen dan segelas penuh air. Soufia menghirup oksigen lalu menenggak air yang dipegang oleh suster itu.
"Dimana suami saya, Dok?" tanya Soufia lancar.
"Dokter mengantar Soufia ke ruangan Instalasi Gawat Darurat. Deka terbaring diatas kasur putih lengkap dengan selimut dengan warna senada, tanpa bunga matahari. Soufia duduk disebelahnya. Deka sedikit menggerakkan jarinya. Sambil memegang perban di dahinya, Soufia menggenggam tangan Deka. Deka bangun, ia melihat muka Soufia. Soufia tersenyum, tapi Deka tidak. Soufia mencium kening Deka.
" Yaaaang... Alhamdulillah sudah bangun, gimana?" tanya Soufia cemas.
Deka diam, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Soufia. Ia lupa.




















Profil Penulis

Nama Lengkap                        : Adi Idham Siregar
Nama Panggilan                      : Adi
Pekerjaan                                             : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu
Tempat/Tanggal Lahir : Bengkulu/24 Mei 1995
Alamat                                                : Jalan Setianegara No 14, Kandang Mas, Bengkulu
Nomor Handphone     : 089649704516
Akun Facebook                       : Adi Idham S
Hobi                                                    : Menulis, menyanyi, dan Travelling
E-mail                                     : adiidhams@gmail.com
Cita-cita                                              : Duta Besar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar