NAMA :Deita Lunita Sinulingga
NPM :D1015054
Kelas :B
- TEORI DALAM KOMUNIKASI
Model
kmunikasi dan teori komunikasi masih tidak terbedakan hingga kini.Karena
masih banyak yang mengatakan bahwa teori komunikasi adalah sama dengan model
komunikasi. Dalam teori komunikasi menurut
Berger dan Chaffee dalam bukunya Hanbook of Communication Science, dapat
disimpulkan bahwa teori komunikasi adalah konseptualisasi atau penjelasan logis
tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Peristiwa komunikasi
yang dimaksud adalah semua elemen yang ada dalam sebuah komunikasi, yaitu mulai
dari produksi, proses, pengaruh dari sistem dan tanda serta lambang-lambang
atau simbol. Sedangkan menurut Little John ,model komunikasi
menunjuk pada representasi simbolis dari suatu benda, proses atau gagasan/ide.
Model komunikasi ini dapat berbentuk gambar-gambar grafis, verbal atau
matematikal. Biasanya model komunikasi dipandang
sebagai analogi dari beberapa fenomena. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model komunikasi
adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan
kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya.
Pada dasarnya antara model dengan teori memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Melalui model komunikasi kita bisa melihat faktor-faktor yang terlibat dalam proses komunikasi karena memang model komunikasi adalah representasi dari suatu peristiwa komunikasi. Namun, dalam sebuah model komunikasi tidak ditemui adanya penjelasan mengenai hubungan dan interaksi antara faktor-faktor atau unsur-unsur yang menjadi bagian dari model itu sendiri. Hilangnya penjelasan inilah yang diisi peranannya oleh teori komunikasi karena memang sifat dan tujuan dari teori komunikasi adalah untuk menemukan fakta yang tersembunyi, melihat fakta yang ada, mengorganisasikannya serta mempresentasikan fakta-fakta tersebut. Sebuah teori komunikasi dikatakan kredibel apabila teori tersebut konseptualisasinya dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pada dasarnya antara model dengan teori memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Melalui model komunikasi kita bisa melihat faktor-faktor yang terlibat dalam proses komunikasi karena memang model komunikasi adalah representasi dari suatu peristiwa komunikasi. Namun, dalam sebuah model komunikasi tidak ditemui adanya penjelasan mengenai hubungan dan interaksi antara faktor-faktor atau unsur-unsur yang menjadi bagian dari model itu sendiri. Hilangnya penjelasan inilah yang diisi peranannya oleh teori komunikasi karena memang sifat dan tujuan dari teori komunikasi adalah untuk menemukan fakta yang tersembunyi, melihat fakta yang ada, mengorganisasikannya serta mempresentasikan fakta-fakta tersebut. Sebuah teori komunikasi dikatakan kredibel apabila teori tersebut konseptualisasinya dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
- Teori Behaviorisme
Tokoh aliran ini adalah John B. Watson
(1878 – 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teori ini
menumpukan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku
berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya.
Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan
oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui
maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson juga dengan tegas menolak
pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap
perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus - respons.
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali insting adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali insting adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Teori ini muncul di ilhami oleh
perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang
dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances, communicative language
programmes have incorporated educational phylosophies based on humanistic
psikology or view which in the context of goals for other subject areas has
been called ‘the humanistic curriculum”. Teori humanisme dalam pengajaran
bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum pengajaran bahasa dengan
istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di Amerika utara di akhir tahun
1960-an dan awal tahun 1970-an. Kurikulum ini menekankan pada pembagian
pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic
curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup
siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran
memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa.Tujuan utama dari teori
ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah
masyarakat. The deepest goal or purpose
is to develop the whole persons within a human society. (McNeil,1977)
- MODEL DALAM KOMUNIKASI
Pada saat Yunani sangat mengagungkan kemampuan berpidato,
Aristoteles muncul dengan teori retorisnya.
Teori ini memaparkan bahwa komunikasi terjadi apabila seseorang mulai
menyampaikan pembicaraannya pada khalayak pendengar. Maka dapat dikatakan Aristoteles menganggap ada setidaknya 3
unsur terpenting dalam komunikasi yaitu pembicara (speaker), pesan atau
isi pembicaraan (messages) , pendengar (listener ). Fokus model ini adalah pada kemampuan bicara atau pidato yang biasanya berpusat
pada kemampuan persuasi seorang pembicara yang dapat dilihat dari isi pidato, susunan pidato dan cara penyampaiannya,dengan
tercapainya tiga hal diatas maka seseorang dapat diukur kemampuan
persuasinya. Kekurangan model ini terdapat
pada asumsi bahwa komunikasi adalah suatu kegiatran terstruktur yang
selalu disengaja, jadi pembicara menyampaikan dan pendengar hanya mendengarkan tanpa dibahas mengenai gangguan
yang mungkin terjadi dalam proses penyampaian, efek yang akan terjadi dan
sebagainya. Kemudian, model ini tidak membahas mengenai aspek nonverbal
dalam persuasi yang mungkin saja terjadi dalam suatu komunikasi.
- Model Shannon dan Weaver
Model yang diciptakan oleh Shannon dan Weaver adalah model yang paling mempengaruhi model komunikasi lain.
Pada model ini Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi
terjadi pengubahan pesan oleh transmetter yang berasal dari sumber informasi menjadi sinyal yang sesuai dengan
saluran yang digunakan. Saluran adalah medium pengirim pesan dari transmetter
ke penerima. Bila di asumsikan dalam percakapan maka sumber informasi
adalah otak (transmetter), menyampaikan sinyal berupa suara yang akan di
salurkan oleh udara (channel) menuju indera pendengaran (receiver). Selain itu yang paling penting adalah model ini
mejelaskan adanya gangguan (noise) yang terjadi dalam proses komunikasi,
gangguan kemudian dibagi menjadi dua bagian yaitu gangguan psikologis dan
gangguan fisik. Gangguan psikologis meliputi gangguan yang berkaitan
dengan pemikiran dan perasaan. Kelemahan dari model ini lagi-lagi adalah,
komunikasi masih dianggap sebagi sesuatu yang statis dan satu arah
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar